Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Candi Gedong Songo

Jaga Jarak dari Candi

Aku duduk di bibir bak penampung sembari menarik dan menghembuskan nafas. Tak jauh dari tempatku duduk–sekitar 50 meter–berdiri kokoh sebuah jejak peradaban bangsa bernama Candi Ijo.

 

Candi Ijo adalah candi Hindu yang terletak di Bukit Ijo, Prambanan, DI Yogyakarta. Walau kini akses jalan menuju Candi Ijo telah dipermulus oleh aspal halus, namun tetap saja, kemiringan jalan yang hampir tegak lurus bagaikan mimpi buruk yang akan terus menghantui para pengunjung Candi Ijo.

 

Di sanalah aku, dengan sepeda tergeletak tidak jauh dari tempatku duduk. Aku mengatur napas yang tersengal-sengal, sembari menatap kemolekan bangunan bersejarah di hadapanku...

 

... Namun tidak untuk didekati.

 

Jaga Jarak dari Candi
Motret candi dari kejauhan (model: Anwar)

 

Bagiku, singgah di candi adalah suatu dilema tersendiri, apalagi bila sudah berhadapan dengan pertanyaan, “Ada keperluan apa kemari?” yang diucapkan petugas jaga.

 

Terkesan seperti tempat ini memang tidak sepenuhnya terbuka bagi tamu, atau itu hanya perasaanku saja.

 

Kamera adalah hal selanjutnya yang bisa memicu persoalan. Sejauh ini, hampir tak ada persoalan dengan kamera handphone atau kamera saku. Bila mana yang ditenteng adalah kamera bertubuh kekar semacam SLR–apalagi ditambah dengan tripod–maka persoalan bisa menjadi bertambah rumit.

 

“Fotonya akan dipergunakan untuk apa?”

 

Pertanyaan ini, juga mengesankan bahwa foto bisa digiring ke ranah perdebatan.

 

Tentunya kita paham, bahwa tindakan-tindakan tersebut semata-mata untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti bila mana foto tersebar kemudian ada yang menyaksikan foto tersebut dan lantas menggiringnya pada niat untuk melakukan tindakan kriminal.

 

Jaga Jarak dari Candi
Pak Satpam yang senantiasa mengawasi gerak-gerik yang mencurigakan

 

Jadi, untuk apa bangunan megah ini berdiri?

 

Mungkin untuk merekonstruksi bagian dari masa lalu. Menunjukkan eksistensi tingginya peradaban bangsa di kala itu. Hingga dapat menjadi buah pelajaran bagi manusia modern di masa kini.

 

Namun sayangnya, niat baik tak sepenuhnya didukung oleh tindakan baik. Khususnya pada bangsa ini, di mana ketika uang menjadi dasar atas segala tindakan, apapun seakan halal untuk dilakukan.

 

Hingga bangunan-bangunan bersejarah itu tak sepenuhnya mampu untuk disajikan pada publik, seperti menjadi aset pariwisata. Komersialisme yang kelak mengundang banyak sorotan publik menjadi pedang bermata dua.

 

Jadi, demikianlah kiranya adanya. Berdiri kokoh ataupun tersebar di sana-sini, keduanya tetap menjadi tamu terasing dari masa lampau.

NIMBRUNG YUK!

  • #Sabtu, 18-Februari-2012, 12:32 WIB
    jadi sekarang candi ijo dijaga seorang security? dulu saya kesini nggak ada security,
    hanya penjaga loket seperti biasa yang meminta uang retribusi ala kadarnya.. sepertinya
    memang sudah hal umum kalau yang bawa kamera SLR jadi ajang pungli.. masa iya sih,
    keajaiban sejarah/budaya akan dipublikasikan tapi malah kena palak.. berbagai alasan
    apapun yang diberikan tapi ya ujung2nya duit sih.. gak jauh2..
    Mungkin itu dia ya, segala sesuatu yang berpotensi menghasilkan banyak uang akan mengundang banyak orang untuk ikut kecipratan efeknya.
  • #Senin, 20-Februari-2012, 10:14 WIB
    di semarang malah ada tempat wisata yang ada tulisan cukup gede, FOTOGRAFER PROFESIONAL DILARANG BEROPERASI.... emang bangunan ini yang buat kamu pak.... tobatttt...
    tobaaaat... bener-bener nggak mau rugi ya Kang. Segala kegiatan yang menghasilkan duit, harus dipungut "pajak". :(
  • RUMPUTLIAR
    avatar 4481
    #Senin, 20-Februari-2012, 12:42 WIB
    dulu pas motret kawasan sekeliling candi juga sempat ditanya" ko sampai ke sana-sana motretnya mas, buat apa?" kesannya curiga sekali. padahal viewnya gak menghadap ke candi
    maka dari itu saya sempet "risih" juga kalau mau ke Candi Ijo –.–
  • FEND
    avatar 4483
    #Kamis, 23-Februari-2012, 17:15 WIB
    dulu waktu saya kesana tahun 2002 memang sudah ada sekuritinya,mermang benar mereka selalu menanyakan keperluan datang......tapi kalo seseorang dari kita membawa kamera SLR terus dipungli yo nganyelke...!!!!!!!maksud e opo kuwi?? mau datang menengok dan mengagumi kemegahan bangunan peradaban ciptaan nenek moyang yang perlu dilestarikan kok malah dipalak dg alasan yang terlalu dibuat-buat!!!!bagaimana jika itu terjadi pada turis asing?
    Wah, kalau turis asing mungkin sudah dimintai "retribusi" Kang :p
  • RUMPUTLIAR
    avatar 4565
    #Selasa, 01-Mei-2012, 12:45 WIB
    jadi gak tenang juga kalau mau motret ke sana lagi
    kayaknya mesti didampingi sama pihak yang "berkuasa" supaya kita nggak dicurigai ya? :p